Rabu, 24 Oktober 2012

Ternak Kelinci Ternyata Hasilkan Daging 24 Kali Daripada Sapi

Ternak Kelinci Ternyata Hasilkan Daging 24 Kali Daripada Sapi Feby Dwi Sutianto - detikfinance Senin, 09/07/2012 11:00 WIB Jakarta - Peluang bisnis ternak kelinci ternyata masih terbuka lebar. Namun sayangnya masih sedikit masyarakat yang melirik kelinci sebagai potensi bisnis yang menjanjikan. Ketua Himpunan Masyarakat Perkelincian Indonesia (Himakindo), Yono C Raharjo menjelaskan proses pengembangbiakan dan pertumbuhan kelinci sangat cepat sehingga seorang investor bisa memperoleh hasil investasi yang relatif cepat jika dikelola dengan baik. "Potensi kelinci untuk tumbuh dan berkembang biak dengan cepat, pada umumnya telah umum diketahui," ungkap Yono saat berbincang dengan detikFinance, Senin (9/7/2012). Yono menjelaskan, dalam setahun seekor induk kelinci mampu menghasilkan paling tidak 40 kg bobot hidup pada pola tradisional dan 120 kg pada pola intensif. "Biasanya ditingkat intensif mengawinkan 7 sampai 8 kali per tahun untuk satu induk kelinci. Kemudian jumlah anak-anak kelincinya terseleksi 8 sampai 10 ekor yang bisa dipananen. Jadi 7 kali 8 sama dengan 56 ekor/tahun," imbuhnya. Pada pola intensif seekor kelinci bisa dipanen pada umur 80 hari dengan bobot 2,5 kg/ekor. Sehingga menurutnya, dari satu induk anak kelinci saja bisa menghasilkan daging sekitar 120 kg/tahun. "Kalau 56 ekor kali 2,5 kg, umur potong potong 80 hari. Jadi 1 induk kelinci bisa menghasilkan sekitar 120 kilo/tahun," sanggahnya Menurutnya, dengan investasi yang sama dengan sapi. Ternyata kelinci bisa menghasilkan daging per tahunnya jauh lebih besar daripada ternak sapi yaitu mencapai kira-kira 24 kali lebih banyak daripada sapi. "Bila disetarakan bahwa 1 sapi bernilai Rp 10 juta, induk kelinci Rp 300 ribu (1 sapi = 30 kelinci), maka dalam 1 tahun 1 sapi menghasilkan 200 kg bobot hidup, sedangkan 30 induk kelinci akan menghasilkan 1.200 sampai 4.800 kg," sambungnya. Jika masyarakat ingin memulai beternak kelinci, sebaiknya dilakukan secara berkelompok agar proses pemeliharaan dan pemasaran produk ternak kelinci bisa dikelola dengan baik. Menurutnya, untuk investasi awal masyarakat bisa berinvetasi kira-kira sebesar Rp 10 juta. Namun dalam kurun waktu setahun masyarakat telah bisa memperoleh pengembalian investasi. "Kalau seorang melihara 20 induk plus 3 jantan. Mestinya dia bisa makan protein 20 gr/orang dari satu keluarga dengan 4 anggota. Ditambah dengan penambahan pendapatan Rp 900 ribu/bulan. Di negara lain bagi yang tidak mampu disediakan (modal) oleh negara kalau di kita 20 induk dengan 3 jantan, rata-rata menghabiskan hampir Rp 10 juta. Dalam 1 tahun sudah balik modal," sebutnya. Selain itu, peternak kelinci juga bisa memperoleh tambahan pendapatan selain penjualan daging kelinci saja. "Pendapatan akan bertambah bila dilakukan integrasi dengan sayuran/bunga, pengolahan daging, kulit-bulu dan pupuk (padat dan cair)," tutup Yono. sumber http://finance.detik.com/read/2012/07/09/110042/1960777/4/ternak-kelinci-ternyata-hasilkan-daging-24-kali-daripada-sapi

Kamis, 04 Agustus 2011

Mengapa Eksekutif di China Hobi Bertani

Mengapa Eksekutif di China Hobi Bertani


» Sayuran

Denny Armandhanu | Jum'at, 5 Agustus 2011, 04:11 WIB

VIVAnews - Kekhawatiran langkanya sumber makanan berkualitas, ditambah kenyataan banyaknya penggunaan bahan berbahaya pada makanan di China, mendorong para eksekutif negara ini turun ke ladang. Di tempat ini, mereka bertani, menumbuhkan makanan dengan tangan mereka sendiri.

Eksekutif dari berbagai profesi ini, di antaranya guru, konsultan, atau ahli komputer, rela mengganti kemeja kerja mereka dengan pakaian seadanya dan berkotor-kotor di ladang. Pekerjaan berladang yang mereka tekuni setiap akhir pekan ini dilakukan di ladang sewaan bernama Little Donkey di pinggiran kota Beijing.

Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 700 orang menyewa ladang untuk menggarapnya sendiri di tempat ini. Di lahan kecil yang mereka sewa, mereka mengaku tidak takut jika tanaman wortel, tomat, dan mentimun yang mereka tanam mengandung zat berbahaya. "Kami justru takut akan keamanan makanan jika tidak menumbuhkannya sendiri," ujar seorang penyewa, Hi Liying dikutip dari laman BBC, 4 Agustus 2011.

Para penyewa mengaku puas dengan hasil ladang mereka. Beberapa tanpa ragu-ragu langsung memasaknya di rumah atau memberikannya kepada anak-anak mereka dan dimakan mentah-mentah. "Jelas rasanya lebih enak jika kita menanamnya sendiri," ujar Liying lagi.

Tidak hanya di Beijing, lahan penyewaan untuk berladang ini juga tersebar di seluruh China. Dilaporkan puluhan lahan penyewaan lainnya juga banyak diminati orang-orang kelas menengah ke atas di China.

Maraknya usaha penyewaan lahan ini terdorong oleh kekhawatiran masyarakat akan keamanan dan kesehatan makanan di China. Berbagai skandal, mulai dari makanan yang menyala di tempat gelap sampai pewarna makanan pada roti membuat rakyat China semakin ketakutan.

Kasus yang aneh menyangkut makanan terbaru adalah kasus meledaknya ribuan semangka di kota Danyang, provinsi Jiangsu, Mei silam. Dilaporkan lebih dari ribuan semangka di lahan seluas 45 hektar meledak, diduga akibat terlalu banyak menggunakan bahan kimia pengembang tanaman.

Paling memilukan mungkin kasus yang menimpa 300.000 balita akibat susu formula mengandung melamine di seluruh China. Beberapa di antaranya didiagnosa terkena penyakit batu ginjal. Sebanyak enam anak meninggal akibat kontaminasi ini.

Akibat peristiwa ini, pemerintah China menerapkan peraturan yang lebih ketat untuk memastikan keamanan makanan mereka. Jika terbukti bersalah, para pelaku terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup. sumber